Sabtu, 28 November 2009

2012



Artikel ini tentulah bukan mempromosi film 2012, sebab tanpa di promosi di blog ini film yang diliris di Hollywood ini sudah laris seiring pop corn yang dijual sebagai cemilan. Ya, cemilan ketika kita melihat sebuah film kiamat.
2012 awalnya adalah sebuah angka, namun sejanak setelah itu merebak menjadi sebuah momentum. Sebab ada moment besar di balik angka tersebut; ada kematian massal, kehidupan dunia yang dalam hitungan saat lintang pukang, manusia kocar kasir, dan dunia hancur lebur.
Ada tsunami setinggi gunung Himalaya. Ada lubang menganga di bumi. Ada gunung menjadi datar. Ada api yang membuat horizon menjadi merah. Adegan tersebut hanya dalam pikiran manusia. Dan manusia membuat imaji menjadi nyata. Di atas layar lebar itu imaji tuah ruah dengan warna, dan berselang penuh suara.
Namun, bagaimanapun 2012 adalah imaji yang tertuang. Tak akan ada, dan mungkin tak akan pernah ada yang tau persis kapan moment itu akan ada dan tiada.
Barangkali sejam lagi, barangkali malam ini, mungkin besok, lusa, tahun depan, 5 tahun lagi, 10 tahun lagi .. 2012? 2020? 2200?
Barangkali yang lebih pasti, bahwa setiap makhluk hidup, tanpa ada kecuali, sedang perjalan menuju moment itu. Sebuah keabadian!

Sabtu, 24 Oktober 2009

Faith



Faith is the bird that feels the light
and sings when the dawn is still dark.

Jumat, 23 Oktober 2009

Rajam


Ini adalah sebuah adegan dalam sebuah cuplikan kitab suci yang berupa deret aksara:
Yesus hanya membungkuk dan menuliskan sesuatu dengan jari-jarinya di tanah. Dan ketika ”pemimpin Yahudi itu terus-menerus bertanya,” demikian menurut Yohanes, Yesus pun berdiri. Ia berkata, ”Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah.

Dan kita pun tahu kahir dari sepenggal adegan di pagi pucat di depan pelataran Bait Allah itu:
Suasana mendadak senyap. Tak ada yang bertindak. Tak seorang pun siap melemparkan batu, memulai rajam itu. Bahkan ”satu demi satu orang-orang itu pergi, didahului oleh yang tertua.” Akhirnya di sana tinggal Yesus dan perempuan yang dituduh pezina itu, kepada siapa ia berkata: ”Aku pun tak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Tak ada satupun dari kita yang pernah tahu apa yang dituliskan oleh Yesus di atas tanah berpasir itu. Barangkali itu sebuah isyarat bahwa tak ada yang bisa di kekalkan, selalu ada elemen yang tidak tetap sekalipun dibentuk diatas bumi ini, memang akan selalu melintas makna, tapi ada yang niscaya berubah atau hilang dari makna itu.
Di pelataran Bait itu, Yesus memang tampak tak menampik ketentuan Taurat. Ia tak meniadakan sanksi rajam itu. Tapi secara radikal ia ubah hukum jadi sebuah unsur dalam pengalaman, jadi satu bagian dari hidup orang per orang di sebuah saat di sebuah tempat. Hukum tak lagi dituliskan untuk siapa saja, di mana saja, kapan saja. Ketika Yesus berbicara ”barangsiapa di antara kamu yang tak berdosa”, hukum serta-merta bersentuhan dengan ”siapa”, bukan ”apa”—dengan jiwa, hasrat, ingatan tiap orang yang hadir di pelataran Bait di pagi itu.

Di pelataran itu Yesus membungkuk, membisu, hanya mengguratkan jarinya.
Ketika ia berdiri, ia berkata ke arah orang banyak. Suara yang teduh tenang; “..yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu..”
Dan khalayak pun undur diri, satu per satu.

Domba yang Hilang



Mata senja masih buta
pagi yang kusebut telat atau buram mataku
Akankah Kau datang seperti lembut telapak tangan
yang tertulis indah dengan tinta abadi di dasar hati

Dengan kasut Kau mencariku
menapak terjal berbatu berdarah-darah
melepas pandang sendu ke semua lelah

Lirih berkata aku anak domba yang hilang
rerumputan gersang yang memang tak panjang
aku tak bertanya apakah aku terpandang olehMu
tapi sedikit tanda apakah Engkau yang mencariku

Kadang buluku tak seputih salju
jarang mengembik seperti ibu
juga tak bertanduk seperti bapakku

Jika mentari memaksaku berpesta di padang
aku berkeliling saja
Rumput mana yang akan kukunyah
Hingga tertinggal di setapak resah

Sisip tanya
aku akan mencari domba hilang dari hatiku
di pesisir sungai bening
saat langit cerah dan burung-burung berkicau lincah

Mungkin dedaunan berkata jujur

Pada Sebuah Nama



Nama ternyata tak hanya jadi penanda. Nama bukan hanya dibuat dan dikonstruksi. Ia juga mengkonstruksi. Nama mengukuhkan sebuah identitas.
Tapi nama tak seluruhnya lahir dari niat membuat konsep. Orang tak cuma menyebut nama dengan sebuah definisi. Nama bukan indeks yang abstrak.
Label itu jadi nama, ketika yang menyandangnya hidup, bergerak, menampakkan emosi, berperilaku manusia. Nama menyarankan adanya personifikasi, seperti ia menghadirkan sebuah imaji di kepala kita, menimbulkan semangat atau rasa gentar, gugup atau harap harap cemas.
Itulah kenapa aku memberi nama motorku, Benedict!

Sabda Rumput



Sebab aku hijau
dan sabdaku terang menjauhi nyanyian cintamu
di tepi bukit
sebab kau terlalu kabut
terlalu kebut
maka aku merekat angin dan angin,
angan dan angan

semua bintang memasang lampu
semua bulan menjadi ratu

pilihanmu hanya tanah?

o langit gembala langit bahana
kepada birumu aku menyembah
kepada birumu aku menyembah

Rabu, 02 September 2009

Apa Kabar Sahabat?



Aurora dan pelangi tak lagi berwarna-warni, kini memutih luntur seperti baju yang di rendam air
bercampur pemutih pakaian. Cakrawala tak lagi bercerita tentang dongeng pengantar sebelum tidur. Di sudut kaca jendela itu hanya ada semburat cahaya jingga gagah tertawa, yang berujar bening kepada tiap insan:
“apa kabar sahabat?”

kata-kata



Kata-kata dalam kepalaku, bermainlah di pucuk-pucuk daun teh, di sebaris-baris embun yang bertengger, memusingi wadah dan riak benak, bergulung-gulunglah bersama mega, riang rialah bersama rintik hujan.
Kerap yang damai itu buyar, yang tenteram itu hilang, yang senandung sudah usai, tapi hati masih menyimpan sepotong bulan untuk menyepuh lantai-lantai jiwa ini dengan hangat lembut.

Tanah Air



Barangkali kosakata tanah air bukanlah sebuah memoria dan harapan yang menyangkut raga: harum padi yang mengembang, rasa rempah yang menggetarkan lidah, suling gendang yang mendayu-dayu, peluh yang membasahi kemeja dan menguap bersama bayu, lagu ibu yang sejuk, batuk kakek, dan cerita-cerita kanak yang berjejak dalam kesadaran. Atau barangkali bukan juga harapan: rumah kelak akan dibangun, anak-anak akan beres bersekolah, karier akan dicapai, dan sebagainya.
Barangkali kosakata tanah air bukanlah sebuah geografi yang sederhana; sebuah tempat adalah bagian dari wilayah musuh atau wilayah diri. Tak ada yang lain.
Mungkin sebuah kosakata tanah air mempunyai definisi yang terlalu menggelembung: sebuah bagian dari sebuah ego, sepotong bagian dari hidup fana dan profan, di sebuah masa, di sebuah tempat, dan tak pernah bisa ditiadakan dengan hukum dan senjata!

Jahitkan Aku Bendera, Bu



Jahitkan aku bendera, bu
yang merahnya tak terlalu merah
karena bila aku berladang
lalu kain merah ternoda hitamnya tanah dari aritku
Jahitkan aku bendera, bu
yang putihnya tak terlalu putih
karena bila aku menukang
lalu kain putih ternoda legamnya paku yang aku palu

Atau barangkali perlukah aku menjadi tiangnya saja, bu
Hanya sekedar memastikan bahwa merah putihku berkibar?