Aku berdiam di titik nol. Akulah kenangan, kenyataan, dan harapan. Berbaur dalam fluktuasi tawa dan tangis, terpilin dalam benang ria dan pilu. Mula akhir kata – gaduh sunyi. Tinggal kerdip lilin di malam sunyiRabu, 10 Desember 2008
Titik Nol
Aku berdiam di titik nol. Akulah kenangan, kenyataan, dan harapan. Berbaur dalam fluktuasi tawa dan tangis, terpilin dalam benang ria dan pilu. Mula akhir kata – gaduh sunyi. Tinggal kerdip lilin di malam sunyiWalk with Me

Kubersandar sejenak di pagar kayu tepi jalan kecil itu.
Melihat balik jejak-jejak yang pernah kutapaki.
Ada rasanya yang hilang, yang tak pernah ku perhatikan selama ini.
Pohon mahoni di tepi, ilalang yang rendah hati,
Dengung serangga, desau bayu dan ricik air.
Nyanyian kecil sahabat.
Kulihat banyak tapak-tapak di jalan kecil itu.
Tentu ku tahu itu bukan milikku sendiri.
Dan ku yakin jika tanpa tapak-tapak itu,
Aku tak pernah sampai sejauh ini
Tak pernah sekuat ini
10220 tapak sudah ku jejakan di bumi ini.
Setidaknya biar ku pelajari makna yang ada
Dalam pijak-pijak di jalan ini
Sampai akhirku, sampai pada Kota yan baru.
Tulisan adalah Makna
Tiap tulisan adalah coretan di atas selembar kertas polos, sebuah interupsi terhadap kesatuwarnaan. Tiap tulisan adalah sebuah kehadiran yang tak selamanya bisa diduga sebelumnya pada sebuah moment yang horison. Tiap tulisan bisa saja menghadirkan makna tak semuanya bisa paripurna dalam satu kemasan yang kompleks. Barangkali, tulisan adalah perlawanan terhadap arsitektur, ribuan subversi panorama yang mengklaim dirinya sempurna.Sabtu, 29 November 2008
Promise of Silence

… di setiap masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan, mungkin ketidakacuhan.
Semuanya teka-teki …
Semuanya teka-teki …
Kesungguhan Bermain

Bermainlah dengan permainan, tapi jangan main-main
mainlah dengan sungguh-sungguh, tapi permainan jangan di persungguh.
kesungguhan permainan terletak dalam ketidak sungguhannya,
sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh lagi.
bermainlah dengan eros, tapi jangan mau dipermainkan eros.
bermainlah dengan agon tapi jangan mau dipermainkan agon.
Minggu, 09 November 2008
Tuhan Lebih Tahu

…kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa, pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir. Kematian dengan demikian diberi tafsiran bukan sebagai lawan dari kehidupan, melainkan kelanjutannya. Di ujung sana Tuhan lebih tahu…
Rahmat yang Sederhana
Diam
Diberi untuk Memberi

Image sebuah modernitas adalah sebuah image vertikal yang profan. Yang modern selalu terlukis degan jelas, lurus, benderang serta mampu melintasi dimensi waktu dan ruang. Setidaknya inilah yang terekam dalam beberapa dasawarsa terakhir.
“Mampu” mungkin inilah kata kuncinya, sedang berderet di belakangnya bayangan manusia yang menangkap dengan ego. Aku adalah tahu. Barangkali, di sinilah letak persoalannya. Ketika subjek “aku yang tahu” disematkan pada tungkai tubuh yang tumbuh pada sejarah, terjadilah apa yang disebut sebagai “metafisika lubang intip”: subjek itu seakan-akan tersekap di menara tanah liat yang tertutup, dan ia memandang dunia dari sebuah lubang.
Terbatas memang. Ia tak terbuka untuk yang lain, demikian pula yang lain. Di sana tak ada yang saling silang, saling berbagi.
Berbagi adalah “memberi”. Di dalamnya, waktu tak terulangi. Tak ada pengharapan akan adanya pembalasan kelak. Ketika kita “memberi”, batas kepercayaan, solidaritas, dan waktu jelas tereliminasi. Malah waktu dihayati sebagai sesuatu yang tak melingkar, malah lepas tak terhingga.
Tapi hidup kian ribut oleh manusia yang cemas. “Memberi” makin jadi laku yang sulit. Yang berkuasa adalah perdagangan: proses tukar-menukar yang mengharapkan laba.
Rahmat Tuhan tak dilihat lagi sebagai sesuatu yang memancar tak terhingga. Rahmat jadi sesuatu yang harus diperebutkan. Dengan kata lain, hubungan manusia dengan Tuhan akhirnya juga jadi proses pertukaran yang dikalkulasi. Manusia menyembah Tuhan dengan mesin hitung pahala yang dipegang dengan was-was: jangan-jangan Tuhan selalu kekurangan. Jika itu yang terjadi, alangkah jauh telah melangkah dari panggilan sejati.
Jika sedang kau takar talentamu hari ini, beranjaklah dari lubang intip menara tanah liat keegoan itu dan ulurkan tangan untuk berbagi. Mungkin perlu belajar seperti Abraham di dataran tinggi Moria, ia tak tahu apa faedah perbuatannya bagi dirinya sendiri atau bagi Tuhan, tapi di saat ia membebaskan diri pamrih, ia tak terperangkap oleh ego, mengatasi rasa takut akan “dunia yang profan”. Do ut Des!
“Mampu” mungkin inilah kata kuncinya, sedang berderet di belakangnya bayangan manusia yang menangkap dengan ego. Aku adalah tahu. Barangkali, di sinilah letak persoalannya. Ketika subjek “aku yang tahu” disematkan pada tungkai tubuh yang tumbuh pada sejarah, terjadilah apa yang disebut sebagai “metafisika lubang intip”: subjek itu seakan-akan tersekap di menara tanah liat yang tertutup, dan ia memandang dunia dari sebuah lubang.
Terbatas memang. Ia tak terbuka untuk yang lain, demikian pula yang lain. Di sana tak ada yang saling silang, saling berbagi.
Berbagi adalah “memberi”. Di dalamnya, waktu tak terulangi. Tak ada pengharapan akan adanya pembalasan kelak. Ketika kita “memberi”, batas kepercayaan, solidaritas, dan waktu jelas tereliminasi. Malah waktu dihayati sebagai sesuatu yang tak melingkar, malah lepas tak terhingga.
Tapi hidup kian ribut oleh manusia yang cemas. “Memberi” makin jadi laku yang sulit. Yang berkuasa adalah perdagangan: proses tukar-menukar yang mengharapkan laba.
Rahmat Tuhan tak dilihat lagi sebagai sesuatu yang memancar tak terhingga. Rahmat jadi sesuatu yang harus diperebutkan. Dengan kata lain, hubungan manusia dengan Tuhan akhirnya juga jadi proses pertukaran yang dikalkulasi. Manusia menyembah Tuhan dengan mesin hitung pahala yang dipegang dengan was-was: jangan-jangan Tuhan selalu kekurangan. Jika itu yang terjadi, alangkah jauh telah melangkah dari panggilan sejati.
Jika sedang kau takar talentamu hari ini, beranjaklah dari lubang intip menara tanah liat keegoan itu dan ulurkan tangan untuk berbagi. Mungkin perlu belajar seperti Abraham di dataran tinggi Moria, ia tak tahu apa faedah perbuatannya bagi dirinya sendiri atau bagi Tuhan, tapi di saat ia membebaskan diri pamrih, ia tak terperangkap oleh ego, mengatasi rasa takut akan “dunia yang profan”. Do ut Des!
Langit yang Terpejam

Ketika malam menghantar pada gelap langit,
kita kenali lagi sepi itu:
Lampu jalanan berdiri jauh-jauh
tak ingin saling menyapa.
Jalanan menjadi datar, sedang mobil berjalan
dengan gusar.
Suara angin-angin malam berdesau menemukan rumah
seperti berpulang kepada randu,
daun-daun yang tak beraksara
Tapi Kejora masih selalu sama
Tapi Kejora masih selalu sama
pada andromeda yang tetap.
Menatapmu sambil berbinar,
mendapati malam berpijar
di dalam hitam korneamu.
Sudah kita kenali sepi itu
ketika cakrawala terpejam
dalam diam.
Langganan:
Postingan (Atom)

