Rabu, 02 September 2009

Apa Kabar Sahabat?



Aurora dan pelangi tak lagi berwarna-warni, kini memutih luntur seperti baju yang di rendam air
bercampur pemutih pakaian. Cakrawala tak lagi bercerita tentang dongeng pengantar sebelum tidur. Di sudut kaca jendela itu hanya ada semburat cahaya jingga gagah tertawa, yang berujar bening kepada tiap insan:
“apa kabar sahabat?”

kata-kata



Kata-kata dalam kepalaku, bermainlah di pucuk-pucuk daun teh, di sebaris-baris embun yang bertengger, memusingi wadah dan riak benak, bergulung-gulunglah bersama mega, riang rialah bersama rintik hujan.
Kerap yang damai itu buyar, yang tenteram itu hilang, yang senandung sudah usai, tapi hati masih menyimpan sepotong bulan untuk menyepuh lantai-lantai jiwa ini dengan hangat lembut.

Tanah Air



Barangkali kosakata tanah air bukanlah sebuah memoria dan harapan yang menyangkut raga: harum padi yang mengembang, rasa rempah yang menggetarkan lidah, suling gendang yang mendayu-dayu, peluh yang membasahi kemeja dan menguap bersama bayu, lagu ibu yang sejuk, batuk kakek, dan cerita-cerita kanak yang berjejak dalam kesadaran. Atau barangkali bukan juga harapan: rumah kelak akan dibangun, anak-anak akan beres bersekolah, karier akan dicapai, dan sebagainya.
Barangkali kosakata tanah air bukanlah sebuah geografi yang sederhana; sebuah tempat adalah bagian dari wilayah musuh atau wilayah diri. Tak ada yang lain.
Mungkin sebuah kosakata tanah air mempunyai definisi yang terlalu menggelembung: sebuah bagian dari sebuah ego, sepotong bagian dari hidup fana dan profan, di sebuah masa, di sebuah tempat, dan tak pernah bisa ditiadakan dengan hukum dan senjata!

Jahitkan Aku Bendera, Bu



Jahitkan aku bendera, bu
yang merahnya tak terlalu merah
karena bila aku berladang
lalu kain merah ternoda hitamnya tanah dari aritku
Jahitkan aku bendera, bu
yang putihnya tak terlalu putih
karena bila aku menukang
lalu kain putih ternoda legamnya paku yang aku palu

Atau barangkali perlukah aku menjadi tiangnya saja, bu
Hanya sekedar memastikan bahwa merah putihku berkibar?

Jumat, 31 Juli 2009

Cemas?


… anak adalah sumber kecemasan berabad-abad. Atau barangkali lebih tepat: anak adalah tempat seorang tua menggantungkan kecemasan-kecemasannya sendiri …

Indonesiaku


… barangkali mencintai tanah air, adalah merasa jadi bagian dari sebuah negeri, merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat.
Mencintai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, mencintai, berkarya dan terutama untuk mati..
adakah rasa itu sedemikian lekat dalamku?

Harap


Film Brazil Terry Gilliam, horor dan komedi saling silang, tindih menindih. Adegan dimulai dengan sebuah etalase dan iklan televisi yang menawarkan pipa penghangat ruang. Seorang perempuan lewat dan sejenak, sebelum sebuah bom meledak. Tapi tak ada jerit. Tak ada sirene.
Barangkali, kita belum menginjakan anak tangga menuju dunia komedi gelap karya Terry Gilliam, di mana horor dan yang sehari-hari membentuk sebuah dunia yang ganjil. Tapi agaknya para teroris akan mulai terbentur pada pertanyaan: apakah yang mereka lakukan sebenarnya—sebuah pertunjukan teror untuk teror? Sebuah pameran kepiawaian menghilangkan jejak, merancang operasi di tengah kesulitan, dan tak lebih dari itu?
Saya kira tak lebih dari itu. Dan ketika pertunjukan buas yang kehilangan tujuan itu berhadapan dengan sesuatu yang lebih berharga—sebuah harapan, kita tahu siapa yang akan menang. Sebuah harap untuk kedamaian.

Lapar vs Kenyang


… di dunia yang penuh sesak dan penuh orang lapar, seorang yang kekenyangan berarti merenggutkan nyawa yang lain …

Ayam dan Mentari


Apakah mentari terbit karena ayam telah berkokok? Ataukah ayam berkokok karena mentari telah terbit?
Bukankah kita semua tahu bahwa mentari selalu terbit ada atau tiadanya ayam berkokok?

Kamis, 25 Juni 2009

Di Depan Belukar


Di depan belukar itu, kita berjudi dengan masa depan. Siapa yang menuntut kepastian penuh dari sejarah akan mendustai diri sendiri. Selalu ada saat untuk bertindak dan memihak – juga ketika kita menolak untuk bertindak dan memihak.
Tapi pada saat yang sama juga ada saat untuk berdiri agak menjauh. Terkadang dengan ironi, terkadang dengan penyesalan, tapi selamanya dengan kesetiaan: di dunia yang berdosa, pilihan kita bisa salah, tapi tugas tak henti-hentinya memanggil dan politik selamanya meminta. Kita mungkin gagal. Meski demikian, tetap ada yang berharga yang kita perkelahikan