Kamis, 08 Januari 2009

Meaning of Time


Waktu adalah ongkos!
Begitulah kini orang sering berkata dengan setengah mengeluh, tapi pasti. Kecepatan pun semakin menentukan. Sementara tanda ruang seperti batas tempat dan negara menjadi terabaikan. Di pasar uang, dana-dana dapat di transfer hanya dengan seketika, ruang menjadi ringkih, tak lagi mempunyai arti.

Tapi waktu seperti inikah yang membebaskan kita? Ia semakin berkuasa. Ia memang membawa semacam rasa pongah ke dalam diri kita, karena kita sendiri yang memberinya daya yang ampuh.
Tapi kemerdekaan lantas berubah makna. Kemerdekaan kita adalah kemerdekaan dengan mata yang cemas setiap bangun pagi.
Sedang waktu tak pernah mati.

My life is like the evening shadows; I am like dry grass
(psalm 102:12)

See then Believe It


"Look at the sky and try to count the stars; you will have as many descendants as that."
(Genesis 15:5)

Pandanglah langit, dan cobalah menghitung bintang-bintang; engkau akan mempunyai keturunan sebanyak bintang-bintang itu. Inilah perjanjian yang agung. Perjanjian antara Tuhan dengan Abraham yang pada masa itu berusia 100 tahun dan tak memiliki keturunan. Abraham yang ringkih boleh saja tertawa sinis dan bertanya, bagaimana mungkin dirinya yang kakek-kakek dan istrinya – Sara - yang berumur 90 tahun masih berharap sebuah keturunan? Tapi bagi yang Kekal, perkataanNya adalah abadi.
Fenomena selanjutnya bisa ditebak, Abraham dibawa keluar dari kediamannya dan disuruh menghitung milyaran bintang yang gemerlap di langit malam. Melihat dan percaya! Inilah agenda agung sang pencipta. Ia hendak menunjukan kepada Abraham untuk melihat dan menjadi yakin.
Momen yang berabad-abad lalu adalah momen yang berputar kembali. Bukankah ketika kita mengubah cara pandang kita, kita akan terkagum-kagum dengan suatu penyelenggaraan illahi itu?

Est autem fides credere quod nondum vides; cuius fidei merces est videre quod credis
Faith is to believe what you do not see; the reward of this faith is to see what you believe.


Once Upon a Time in Saint John


“Holy, holy, holy!
The LORD Almighty is holy! His glory fills the world."

Kalimat yang pernah membuncah dan terekam oleh Yesaya terdengar kembali dari dalam Katedral Saint John. Kata serupa yang seperti mabuk itu ditulis kembali oleh Allen Ginsberg “Everything is holy, everybody is holy, holy! holy!”

Sebuah kalimat yang berbahaya. Jika semua hal adalah kudus, maka kudus itu ada di pojok ruangan, di balik sapu lidi yang pejal, di dalam cerek perak milik si mbok, di dalam botol susu, di lipatan surat kabar harian, dan barangkali ada di ujung pelangi di sudut bumi.
Jika semua orang adalah kudus, maka orang yang paling licik dan jahat, koruptor tengik, musuh yang berwajah malaikat, dan mungkin juga penjaja tubuh komersil di pojok remang malam juga termasuk dalam deretan para kudus.
Gunawan Muhamad menulis: “Jika semua adalah suci, yang lain bukan mukjijat lagi”
Tapi barangkali kalimat diatas adalah kalimat yang magis. Bukankah jika semua hal adalah suci, maka hal yang pantas dilakukan untuknya adalah yang suci – semata-mata dilakukan hanya untuk yang Tersuci, sekalipun dalam keringkihan ragawi?

Sanctus, sanctus, sanctus Dominus Deus!
“Suci, suci, suci Allah Kang Mahakwasa. Salumahé bumi kebak kaluhurané.”

Rabu, 10 Desember 2008

Titik Nol

Aku berdiam di titik nol. Akulah kenangan, kenyataan, dan harapan. Berbaur dalam fluktuasi tawa dan tangis, terpilin dalam benang ria dan pilu. Mula akhir kata – gaduh sunyi. Tinggal kerdip lilin di malam sunyi

Walk with Me


Kubersandar sejenak di pagar kayu tepi jalan kecil itu.
Melihat balik jejak-jejak yang pernah kutapaki.
Ada rasanya yang hilang, yang tak pernah ku perhatikan selama ini.
Pohon mahoni di tepi, ilalang yang rendah hati,
Dengung serangga, desau bayu dan ricik air.
Nyanyian kecil sahabat.

Terpesona.
Kulihat banyak tapak-tapak di jalan kecil itu.
Tentu ku tahu itu bukan milikku sendiri.
Dan ku yakin jika tanpa tapak-tapak itu,
Aku tak pernah sampai sejauh ini
Tak pernah sekuat ini
10220 tapak sudah ku jejakan di bumi ini.

Berjalanlah bersamaku.
Setidaknya biar ku pelajari makna yang ada
Dalam pijak-pijak di jalan ini
Sampai akhirku, sampai pada Kota yan baru.

Berjalanlah bersamaku.

Tulisan adalah Makna

Tiap tulisan adalah coretan di atas selembar kertas polos, sebuah interupsi terhadap kesatuwarnaan. Tiap tulisan adalah sebuah kehadiran yang tak selamanya bisa diduga sebelumnya pada sebuah moment yang horison. Tiap tulisan bisa saja menghadirkan makna tak semuanya bisa paripurna dalam satu kemasan yang kompleks. Barangkali, tulisan adalah perlawanan terhadap arsitektur, ribuan subversi panorama yang mengklaim dirinya sempurna.

Sabtu, 29 November 2008

Promise of Silence


… di setiap masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan, mungkin ketidakacuhan.
Semuanya teka-teki …

Kesungguhan Bermain


Bermainlah dengan permainan, tapi jangan main-main
mainlah dengan sungguh-sungguh, tapi permainan jangan di persungguh.
kesungguhan permainan terletak dalam ketidak sungguhannya,
sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh lagi.
bermainlah dengan eros, tapi jangan mau dipermainkan eros.
bermainlah dengan agon tapi jangan mau dipermainkan agon.

Minggu, 09 November 2008

Tuhan Lebih Tahu


…kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa, pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir. Kematian dengan demikian diberi tafsiran bukan sebagai lawan dari kehidupan, melainkan kelanjutannya. Di ujung sana Tuhan lebih tahu…

Rahmat yang Sederhana


…Kenapa selama ini orang praktis terlupa akan burung gereja, daun asam, harum tanah: benda-benda nyata yang, meskipun sepele, memberi getar pada hidup dengan tanpa cincong? Tidakkah itu juga sederet rahmat, sebuah bahan yang sah untuk percakapan, untuk sebuah pemikiran? ...