Minggu, 02 November 2008

Cukuplah Kau Bercahaya


Sebuah lilin kecil berada dalam genggaman.
Lalu ia dibawa ke sebuah ruang gelap dengan tangga menjulang keatas.
“Mau dibawah kemanakah aku?”
“Oh, aku akan menjadikanmu cahaya terang yang amat besar.”

“Tapi, bagaimana mungkin? Aku hanya sebuah kerdip lilin kecil”
“engkau mungkin tak perlu tahu akan hal itu. Aku hanya ingin engkau tetap bercahaya. Itu sudah cukup.”

Lalu, lilin kecil dibawa keatas sebuah menara mercusuar.
Dengan api yang kecil, ia menyulutkan ke sebuah perapian yang besar. Lalu di depannya diletakan sebuah cermin cembung, sehingga cahayanya memantul bermil-mil jauhnya. Cahayanya kini memandu kapal-kapal yang berlabuh di sekitar dermaga.

Kita adalah lilin kecil dalam genggamanNya.
Mungkin tak perlu kita ketahui rencana agungNya,
Cukuplah kata ini, “Aku hanya ingin engkau tetap bercahaya”

Kisah Bambu


Dalam sebuah kemarau panjang.
Pemilik kebun menghampiri bambu di sudut halaman.
“aku membutuhkanmu”
“dengan senang hati, tuan”
“aku akan menjadikanmu pengantara”
“apa yang bisa ku lakukan untuk itu?”
“aku akan memotongmu. Membersihkan daunmu. Membuang sendi-sendimu”
“tidak! Itu terlalu menyakitkan”
“jika kau tidak bersedia, maka lambat laun semua akan kering dan mati”
“tapi itu tidak adil. Kenapa harus aku?”
“sebab hanya engkau yang mampu. Maukah engkau melihat semua kering dan mati?”
“tentu saja tidak mau!”
“lalu? Bagaimana?”
“baiklah. Jadikan aku seturut kehendakmu”

Bambu tersebut dipotong, dibersihkan daun-daunnya, dibuang juga segala sekat dan sendinya. Lalu bambu tersebut diletakan diantara mata air dan lahan itu. Dan air yang mengalir melewatinya lambat laun membuat taman itu kembali segar. Hijau. Bestari.

Kita bisa memilih menjadi bambu dipojok tanah kering, atau menjadi bambu yang menjadi sarana? Konsekuensinya jelas bahwa menjadi sarana selalu ada yang ‘dipotong’ dan ‘dibersihkan’.

Sebuah Ruang Untuk Kaum Muda


Dengan tidak sengaja saya menemukan kata “paidea” dalam sebuah buku yang kubaca, yang dalam bahasa Yunani berarti pemuda. Mungkin kata ini pula yang membentuk kata “pendagogis” yang menjadi nama dari kelompok kepemudaan di beberapa paroki di Jakarta. Konon, orang Yunani memandang bahwa kaum muda adalah pemasok negara yang utama.
Dan memang itulah sejatinya kaum muda. Ia adalah sebuah garda depan masyarakat dan agen-agen perubahan budaya atau gaya hidup masyarakat yang paling efektif. Selain itu, kaum muda adalah wajah masa depan Gereja (Apalagi, wajah Asia adalah wajah kaum muda: 60% orang Asia berusia 30 tahun kebawah). Dunia membutuhkan gairah orang muda sebab antusiasme kaum muda membuat dunia lebih berdegup lebih dinamis dan penuh semangat menjawab panggilan Tuhan. Beranjak dari fenomena ini, sangat menarik apabila menemukan sebuah korelasi antara budaya kaum muda dengan agama sebagai konteks sekularisasi. Sekularisasi menggambarkan sebuah proses kultural di mana pemikiran, praktek agama kehilangan signifikansi sosialnya. Berkat penemuan iptek, sekularisasi menjadi sebuah proses penemuan jati diri dunia: “global village” itu otonom tapi tetap berkorelasi dengan Sang Pencipta (bdk. Gaudium et Spes, art. 36). Namun, dengan rendah hati kita juga mengakui bahwa penemuan itu menjadi embrio lahirnya sekularisme: suatu ideologi tertutup yang memutlakkan otonomi hal-hal duniawi tanpa keterbukaan kepada yang Illahi.

Quo Vadis Kaum Muda?
Maka, ketika dunia kita berlari dengan kencang tanpa kendali pasti, ketika anonimitas (orang tidak lagi saling mengenal) dan mobilitas (begitu cepatnya orang orang berpindah tempat) begitu pekat dan erat, sebagian besar masyarakat bergumul di tengah lalu lintas modernitas yang penuh kebisingan dan kekejaman, kaum muda juga mengalami situasi tercabut dari akar, serta terpencar, lepas dari ikatan teritorial yang tetap dan aman. Bahkan, mungkin dapat dikatakan bahwa sosok kaum muda kerap linglung mencari potret wajahnya sendiri.
Keprihatinan ini tertuang pada sebuah rekomendasi pada Temu Kaum Muda 2002 di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Ada delapan masalah yang kini dihadapi oleh kaum muda: (1) masalah yang semakin kompleks (tauran, narkoba, sex bebas, film porno), (2) kecendrungan membuat kelompok eksklusif (penjelajah mal, penggemar film, playboy club), (3) hilang keceriaan, sikap kritis, spontan dan kreatif, (4) kehilangan ketajaman dalam berpikir (sulit diajak berpikir/ simplitis), (5) kesalahan pendidikan formal: konformis, suka keseragaman, tidak terbuka, tidak jujur, cuek dan apatis pada soal kemanusiaan, (6) hidup dalam dua kutub: budaya modern/ hedonis dan budaya tradisi feodal (gereja dan sekolah), (7) punya mimpi semu akan masa depan: kerja ringan tapi hasil banyak, generasi instan, (8) kegamangan menatap masa depan: tidak tahan banting.

Komunitas Basis a la Kaum Muda
Berdasarkan survei Pusat Penelitian Atmajaya – Jakarta, secara de facto kaum muda tidak krasan dalam kelompok besar dengan penanganan massal. Mereka membutuhkan kelompok kecil yang lebih menyediakan keakraban dan kekompakan. Kaum muda senang dengan variasi, dengan segala kreativitas yang membuncah, mereka mudah jenuh dengan kegiatan yang rutin dan monoton. Bagi mereka kegiatan menjadi kurang menarik kalau terlalu formal dan penuh dengan pengarahan moral.
Bersama kaum muda, kita tentu dapat memulai komunitas basis, dari kelompok yang kecil dimana keakraban tidak melulu ditemukan dalam week-end atau rapat organisasi, tapi lebih banyak ditemukan dalam acara informal seperti nongkrong bareng, diskusi, ngumpul bareng dan acara sederhana lainnya. Di Yogyakarta, sebelah utara keraton terdapat sebuah komunitas Tikar Pandan. Diatas tikar inilah kaum muda interfidei (lintas agama) berkumpul, baraktifitas, berdiskusi, berdoa, bernyanyi, bercerita. Iman terasa menyatu, lebih erat dari sekat- sekat primordial dan sekterian.
Muncul juga berbagai komunitas basis lainnya, seperti Biro Komunikasi Pelajar Katolik, Forum Kontak Pelajar Katolik, dan sebuah paroki di Jakarta Barat muncul sebuah komunitas yang bernama Socrates. Mengikuti misa bersama. Menonton film bersama, membahasnya dan mendiskusikannya, membedah buku dan aktualisasi dalam keseharian. Tak melulu di sebuah ruangan di gedung serba guna paroki, tapi sesekali mereka ngumpul bareng di Starbuck sambil menyeruput secangkir cappuccino, atau di kafe di mana biasa mereka hang out.
Dalam komunitas basis inilah Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda begitu menggema. Gereja menitikberatkan pengembangan katolisitas pada dua hal: Kehidupan iman dan kehidupan menggereja. Disinilah kaum muda diharapkan dapat menggumuli hidup sehari-hari sebagai perwujudan iman-pertemuan dengan Allah, perjumpaan dengan sesama sebagai aktualisasi diri. Ia pun terlibat dalam berbagai kegiatan tugas-tugas Gereja: koinonia/ persekutuan, kyrigma/ pewartaan, liturgia/ ibadat, diakonia/ pelayanan, dan martyria/ kesaksian.

Epilog: Sebuah Pekerjaan Rumah
Memang harus diakui bahwa filosofi hidup orang muda itu singkat, tapi maknyus, nancep, dan dalem! Nampaknya slogan-slogan iklan lebih menarik untuk mereka ikuti, seperti: “Kutahu yang kumau”, “Free Yourself”, “Cuek is the Best” atau barangkali “emangnye aye fikirin!” Di jalan-jalan umum, layar kaca di rumah, selebaran yang ditempel, dengan mudah kita menemukan sebuah kata iklan: Bukan Basa-Basi. Orang muda tak suka banyak teori bijak “basa-basi” yang kerap di jumpai dalam ajaran agama. “Ini tidak boleh, itu tidak boleh... but why not?” Kaum muda butuh jawaban yang kongkrit sebagai bukti.
Kadang muncul sebuah pertanyaan yang menggelitik: apakah kaum muda menganggap keselamatan yang ditawarkan oleh agama selama ini adalah sebuah dongeng yang meninabobokan? Situasi khas postmodern ini membuat mereka lebih berani berpikir dan menangkap tanda-tanda dalam panca indra mereka. Dan tantangan bagi kita: beranikah kita menawarkan keselamatan yang paripurna kepada kaum muda berikut dengan berbagai pergualatan eksitensial mereka tanpa harus mengubah arus mereka?
Jika kehidupan ini adalah sebuah organisasi, maka kaum muda adalah sebuah organisme yang hidup dan terus ber-‘phanta rei’ (berkembang), mereka memang harus diperhatikan agar tidak amburadul, mbrudul dan mandul. Disinilah kita ditantang untuk proaktif menemukan peluang dan praktek solidaritas universal dalam dunia sekuler.Memang, banyak opini, pendapat, ulasan, tulisan yang dapat kita kemukakan sebagai dasar untuk menyentuh keprihatinan kaum muda kita yang saecula saeculorum. Tapi barangkali ada satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah selama ini kita juga berbicara dengan kaum muda?

Bawa kami ke Bumi


Di ujung rangka baja ini
kami merasa sepi dan dingin
wahai engkau sang waktu
mampirlah dan bawalah kami
kembali ke Bumi menghirup wangi rumput

Senin, 22 September 2008

Kapitalisme

Kapitalisme selalu akan mengubah tanah menjadi ruang yang bisa dipertukarkan, setelah itu dikonsumsi. Konsumsi adalah cara untuk menghabisi. Si petak tanah tak ubah nasibnya seperti sebongkah nasi tumpeng: ia di tata dengan indah, diberi makna simbolik, tapi tak lama setelah itu ia akan menjadi santapan, benda yang dikunyah dan ditelan.
Ya, konsumsi adalah menghabisi! membuat ludus!
Tapi, terlepas dari statusnya yang unik dan tunggal, ia selalu bisa dipertukarkan dengan sesuatu yang tak selalu tampak. Dalam agama, ia disebut "rahmat Tuhan"; dalam kapitalisme ia disebut "harga" yang tentunya ditentukan oleh "the invisible hand"

Hidup adalah Mencari


Barangkali Timothy McVeigh akan selalu ingat kejadian 19 April 1995 sampai akhirnya ia dihukum mati. dengan 2.000 kilogram campuran pupuk amonium nitrat dan bahan bakar diesel, yang ia taruh sebuah truk sewaan, ia meledakan sebuah bangunan besar di kota Oklahomo. Gedung itu tempat pemerintah federal berkantor untuk urusan kesejahteraan sosial dan badan pengawasan tembakau, alkohol dan senjata api. Suara menggelegar dan bagian depan bangunan itu hancur. 168 orang mati sebagian adalah anak-anak, 500 lebih luka-luka.
McVeigh yakin tindakannya benar, ia bersikukuh membela tuhan dengan tindakannya. Mungkin, dalam hal ini ia tak pernah sendiri. Dan kita semua tahu kelanjutkan dari kisah membela agama yang berujung pada pertumpahan darah. Juergensmeyer - penulis Terror in the Mind of God menyimpulkan bahwa agama memang selalu mengandung imajinasi yang membuat pelbagai nilai menjadi mutlak. sementara itu agama membenarkan kekerasan, dan kekerasan memperkukuh agama.
Yang agaknya diabaikan oleh para "laskar" itu adalah bahwa moral selalu menjadi manusia lebih baik menuju Sang Cahaya tanpa harus mendekatinya. bukankah hidup menjadi berarti bukan karena ingin mencapai, tetapi karena ingin mencari?

Tuhan dan Kata


Tampaknya, tak hanya ada satu makna yang terkandung dalam kata "Tuhan". bahkan sejak berkembangnya struktur bahasa, kita semakin sadar betapa tidak stabilnya makna kata.
Maka, setiap kali "Tuhan" kita sebut, sebetulnya kita tidak menyebut-Nya. Saya ingat sebuah kalimat yang pernah dikatakan oleh teman saya yang ia kutip dari sebuah sutra: "Budha bukan Budha dan oleh sebab itu ia Budha". Bagi saya, ini berarti ketika kita sadar bahwa "Tuhan" atau "Budha" yang kita acu dalam kata sebenarnya tak terwakili oleh kata itu.
dan aku semakin yakin bahwa "Tuhan" tak akan pernah terwakilkan oleh satu aksara, apapun itu!

Minggu, 17 Agustus 2008

Bangsa


Seorang DPR berkunjung ke sebuah sekolah dasar dimana dulu ia menuntut ilmu, dan ia diijinkan berbicara dengan anak-anak di salah satu kelas.
Ia maju menulis kata "TRAGEDI" dengan kapur di papan tulis.
"anak-anak, apakah kalian tahu arti dari kata tragedi?" tanyanya.

Seoarang anak yang tambun menjawab dengan percaya diri:
"Seorang kakek terjatuh dari pohon kelapa ketika ia hendak memetik buah kelapa untuk cucunya"
Bapak DPR menggeleng, "Bukan. Itu namanya kecelakaan"

Anak lain mengajungkan jarinya dan menjawab:
"Sekelompok atlet menginap di wisma dan tiba-tiba tsunami dan menewaskan semuanya"
Bapak itu kembali menggeleng, "Bukan. Itu namanya bukan kehilangan besar bagi bangsa"

Akhirnya anak lain menjawab:
"Ketika sekelompok besar bapak anggota DPR naik helikopter dan diatas sana helikopter goyang sehingga semua anggota DPR itu jatuh ke jurang"
Bapak itu bingung dan bertanya kembali, "kenapa kau sebut itu tragedi nak?"

anak itu menjawab:
"Sebab, itu bukan kecelakaan, dan juga bukan kehilangan besar bagi bangsa, pak"

Kamis, 07 Agustus 2008

Tuhan Mestikah Ada?


Di Jerman pada abad ke-13, seorang pengkhotbah Ordo Dominikan, Meister Eckhart, berdoa dengan menyebut Gotthes (Tuhan) dan Gottheit (Maha Tuhan). yang pertama adalah "pengertian" tentang Tuhan, sebuah konsep. sedangkan pengertian yang kedua adalah sesuatu yang tak terjangkau oleh konsep, sesuatu yang tak tertakar. Maka, si Eckhart berdoa demikian: "aku mohon .. agar aku dijauhkan dari Gotthes"
Tahun 1329, Paus Yohanes XXII menuduhnya 'bidaah'. Eckhart diadili dan ditemukan mati sebelum vonis dijatuhkan pada dirinya.
Menurutku, Tuhan bukanlah hasil keinginan kita. Tuhan tak benar-benar harus ada, bahkan Ia mengatasi ruang yang bernama 'ada'. Ia mampu tanpa Ada. Ia datang dalam kemerdekaan karena kasihNya.

Iman & Sarang



Iman selamanya akan ditorehkan sebagai jejak-jejak ketabahan. Tapi iman juga dibaca sebagai antagonisme. Kita bahkan bisa menampik bahwa bagi sebagian orang, imannya kepada Sang Maha Agung itu memberikan dirinya daya yang luar biasa dan sulur inspirasi yang tak pernah terhenti. Tapi, kita juga tak mampu menyanggah bahwa keyakinan abstrak itu juga membuat sebagian menghalalkan penindasan, membangkitkan kekerasan, dan menumpahkan darah.
Iman tak ubahnya perisai. Ia menjadi pelindung seseorang dari kerasnya sekitar, tapi juga sebagai perisai membela diri untuk menyerang yang lain.
Lalu kenapa iman mesti sebagai perisai?

Aku termenung. Sekali lagi aku dengar suara jengkrik, serangga yang mudah terinjak itu. Aku ingat semut yang mudah diusir, nyamuk yang dengan mudah dimusnahkan, laba-laba yang mudah diterjang, burung-burung yang mudah dihalau. Tapi mereka memiliki ruang yang privat. Entah liang, entah gua, entah sarang, yang selalu mengandung rahasia terdalam. Bagian dari desain Tuhan yang menakjubkan.