Kamis, 08 Januari 2009

Pinch of Destiny


Tanggal 20 Agustus 1902, Kartini muda menggoreskan pena diatas kertas, demikian yang ditulisnya: “Di mana kebahagiaan sejati? Tak jauh, tapi sukar menemukan jalan ke sana, kita tak bisa berangkat dengan trem, dengan kuda dan perahu, dan tak ada emas yang dapat membayar bea perjalanan itu. Jalan itu susah ditemukan, dan kita harus membayar ongkosnya dengan air mata dan darah di jantung serta meditasi. Di mana jalan itu? Dia ada dalam diri kita sendiri ...”
Ada yang klise dalam paragraf itu, tapi bagi Kartini, Tuhan bukanlah jalan lempang dan terang yang dibangun oleh akal budi melulu. Jalan itu tak henti-hentinya harus dicari kembali oleh masing-masing diri. Dalam perspektif ini, Tuhan bukanlah hanya keniscayaan dari dorongan etis, Sang Otoritas Moral, yang menjadi acuan nilai-nilai universal. Tuhan adalah pengalaman batin yang unik bagi setiap saat, setiap tempat, dan setiap manusia.
Pengalaman batin yang luar biasa ini kerap disebut: the individual pinch of
destiny.

Di akhir hidupnya, ia menulis demikian:
“Sebuah kerja harus dilakukan, seraya Tuhan sudah rapi tersimpan dalam iman, sebuah iman yang dapat dipergunakan bagai sebuah peta ...”

The City of God


Agama dimulai dengan gemetar, ada rasa takut dan kasih yang mendalam, perpaduan antara amor dan horror. Tapi yang kini terlihat adalah suatu sejarah yang menyebabkan agama berakhir dengan rapi: design dan bangunan.
Berabad-abad kita tak lagi menemukan dan mengungkapkan Tuhan yang senyap. Dihadapkan kita terbujur mesjid yang agung, gereja yang gigantris, kenisah yang megah, patung Budha dari emas yang terbaring, pagoda dengan pucuk berkilau – dan umat berdesak, makhum dan kikuk.
Tampaknya pengalaman akan Allah dinyatakan dalam monumen yang kukuh – yang mungkin sebetulnya adalah sebuah fantasi akan yang kekal.
Di atas sana, mungkin Ia memandang dengan prihatin dan tersenyum renyah.

Tahtagata


Boris Paternak, novelis kebangsaan Rusia menulis; “kerap orang tak bisa menikmati hari karena penuh cemas, bagi mereka membuka jendela terasa seperti membuka nadi.” Padahal seperti kata bob Dylan dalam syairnya: you dont always need a weatherman to know which way the wind blows, kita tak membutuhkan juru cuaca untuk menentukan ke arah mana angin berhembus.

Sang Sidharta Budha Gautama memiliki banyak nama. Salah satunya, Tathagata – sebuah nama yang memiliki makna ganda. Tath-agata: datanglah dan Tatha-gata: pergilah. Kita diajak tak terpaku dan melekat pada masa lalu dan berupaya menangkap hari ini demi yang akan datang. Atau seperti kata Santo Martinus Biberach, “saya datang tapi tak tahu dari mana, saya pergi tapi saya tak tahu kemana”. Baginya, ia menikmati hidup sekarang tak terjerat dari nostalgia masa lalu dan mimpi masa depan.
Mungkin benarlah kata penulis dalam Wedhatama, memahami hidup karena menjalani hidup.

What has happened before will happen again. What has been done before will be done again. There is nothing new under sun shine.

Shepherd of Soul


Even if I go through the deepest darkness, I will not be afraid, for You are with me. Your shepherd's rod and staff protect me.
You are my shepherd; I have everything I need...

Raja Daud meninggalkan kalimat diatas sebagai keteguhan imannya. Berabad-abad kemudian, kalimat tersebut tetaplah menyimpan daya yang luar biasa, setidaknya kalimat ini pula disebutkan dengan gelisah oleh Anne Boleyn - ratu yang membuat Ratu Catherina Aragon terusir dari istana dan mengakibatkan Inggris terpisah dari Roma - sebelum dieksekusi mati oleh Raja Henry dan disebutkan oleh mereka yang mencari ketenangan.

Barangkali yang menjadikan kata-kata itu berdaya luar biasa itu tak lain adalah sikap pasrah yang mendalam, suatu sikap percaya yang paripurna, suatu penyerahan yang total yang termaktub dalamnya.
Jika itu yang terjadi, maka tak pernah akan muncul pertanyaan: Mengapa ini yang harus terjadi? Mengapa harus aku yang mengalami? Mengapa Kau menuntunku ke sini? Mengapa masalah tiada henti?
Yang ada hanyalah sebuah perayaan jiwa atas semua yang terjadi tanpa mempertanyakan mengapa harus terjadi. Akhirnya, hanya credo inilah yang termadah:

“God, I know You are complete control of my life and You have got me exactly where You want me to be. Thus, I am going to stay filled with faith”
Be it unto me according to Thy word..

Meaning of Time


Waktu adalah ongkos!
Begitulah kini orang sering berkata dengan setengah mengeluh, tapi pasti. Kecepatan pun semakin menentukan. Sementara tanda ruang seperti batas tempat dan negara menjadi terabaikan. Di pasar uang, dana-dana dapat di transfer hanya dengan seketika, ruang menjadi ringkih, tak lagi mempunyai arti.

Tapi waktu seperti inikah yang membebaskan kita? Ia semakin berkuasa. Ia memang membawa semacam rasa pongah ke dalam diri kita, karena kita sendiri yang memberinya daya yang ampuh.
Tapi kemerdekaan lantas berubah makna. Kemerdekaan kita adalah kemerdekaan dengan mata yang cemas setiap bangun pagi.
Sedang waktu tak pernah mati.

My life is like the evening shadows; I am like dry grass
(psalm 102:12)

See then Believe It


"Look at the sky and try to count the stars; you will have as many descendants as that."
(Genesis 15:5)

Pandanglah langit, dan cobalah menghitung bintang-bintang; engkau akan mempunyai keturunan sebanyak bintang-bintang itu. Inilah perjanjian yang agung. Perjanjian antara Tuhan dengan Abraham yang pada masa itu berusia 100 tahun dan tak memiliki keturunan. Abraham yang ringkih boleh saja tertawa sinis dan bertanya, bagaimana mungkin dirinya yang kakek-kakek dan istrinya – Sara - yang berumur 90 tahun masih berharap sebuah keturunan? Tapi bagi yang Kekal, perkataanNya adalah abadi.
Fenomena selanjutnya bisa ditebak, Abraham dibawa keluar dari kediamannya dan disuruh menghitung milyaran bintang yang gemerlap di langit malam. Melihat dan percaya! Inilah agenda agung sang pencipta. Ia hendak menunjukan kepada Abraham untuk melihat dan menjadi yakin.
Momen yang berabad-abad lalu adalah momen yang berputar kembali. Bukankah ketika kita mengubah cara pandang kita, kita akan terkagum-kagum dengan suatu penyelenggaraan illahi itu?

Est autem fides credere quod nondum vides; cuius fidei merces est videre quod credis
Faith is to believe what you do not see; the reward of this faith is to see what you believe.


Once Upon a Time in Saint John


“Holy, holy, holy!
The LORD Almighty is holy! His glory fills the world."

Kalimat yang pernah membuncah dan terekam oleh Yesaya terdengar kembali dari dalam Katedral Saint John. Kata serupa yang seperti mabuk itu ditulis kembali oleh Allen Ginsberg “Everything is holy, everybody is holy, holy! holy!”

Sebuah kalimat yang berbahaya. Jika semua hal adalah kudus, maka kudus itu ada di pojok ruangan, di balik sapu lidi yang pejal, di dalam cerek perak milik si mbok, di dalam botol susu, di lipatan surat kabar harian, dan barangkali ada di ujung pelangi di sudut bumi.
Jika semua orang adalah kudus, maka orang yang paling licik dan jahat, koruptor tengik, musuh yang berwajah malaikat, dan mungkin juga penjaja tubuh komersil di pojok remang malam juga termasuk dalam deretan para kudus.
Gunawan Muhamad menulis: “Jika semua adalah suci, yang lain bukan mukjijat lagi”
Tapi barangkali kalimat diatas adalah kalimat yang magis. Bukankah jika semua hal adalah suci, maka hal yang pantas dilakukan untuknya adalah yang suci – semata-mata dilakukan hanya untuk yang Tersuci, sekalipun dalam keringkihan ragawi?

Sanctus, sanctus, sanctus Dominus Deus!
“Suci, suci, suci Allah Kang Mahakwasa. Salumahé bumi kebak kaluhurané.”

Rabu, 10 Desember 2008

Titik Nol

Aku berdiam di titik nol. Akulah kenangan, kenyataan, dan harapan. Berbaur dalam fluktuasi tawa dan tangis, terpilin dalam benang ria dan pilu. Mula akhir kata – gaduh sunyi. Tinggal kerdip lilin di malam sunyi

Walk with Me


Kubersandar sejenak di pagar kayu tepi jalan kecil itu.
Melihat balik jejak-jejak yang pernah kutapaki.
Ada rasanya yang hilang, yang tak pernah ku perhatikan selama ini.
Pohon mahoni di tepi, ilalang yang rendah hati,
Dengung serangga, desau bayu dan ricik air.
Nyanyian kecil sahabat.

Terpesona.
Kulihat banyak tapak-tapak di jalan kecil itu.
Tentu ku tahu itu bukan milikku sendiri.
Dan ku yakin jika tanpa tapak-tapak itu,
Aku tak pernah sampai sejauh ini
Tak pernah sekuat ini
10220 tapak sudah ku jejakan di bumi ini.

Berjalanlah bersamaku.
Setidaknya biar ku pelajari makna yang ada
Dalam pijak-pijak di jalan ini
Sampai akhirku, sampai pada Kota yan baru.

Berjalanlah bersamaku.

Tulisan adalah Makna

Tiap tulisan adalah coretan di atas selembar kertas polos, sebuah interupsi terhadap kesatuwarnaan. Tiap tulisan adalah sebuah kehadiran yang tak selamanya bisa diduga sebelumnya pada sebuah moment yang horison. Tiap tulisan bisa saja menghadirkan makna tak semuanya bisa paripurna dalam satu kemasan yang kompleks. Barangkali, tulisan adalah perlawanan terhadap arsitektur, ribuan subversi panorama yang mengklaim dirinya sempurna.