Rabu, 02 September 2009

Tanah Air



Barangkali kosakata tanah air bukanlah sebuah memoria dan harapan yang menyangkut raga: harum padi yang mengembang, rasa rempah yang menggetarkan lidah, suling gendang yang mendayu-dayu, peluh yang membasahi kemeja dan menguap bersama bayu, lagu ibu yang sejuk, batuk kakek, dan cerita-cerita kanak yang berjejak dalam kesadaran. Atau barangkali bukan juga harapan: rumah kelak akan dibangun, anak-anak akan beres bersekolah, karier akan dicapai, dan sebagainya.
Barangkali kosakata tanah air bukanlah sebuah geografi yang sederhana; sebuah tempat adalah bagian dari wilayah musuh atau wilayah diri. Tak ada yang lain.
Mungkin sebuah kosakata tanah air mempunyai definisi yang terlalu menggelembung: sebuah bagian dari sebuah ego, sepotong bagian dari hidup fana dan profan, di sebuah masa, di sebuah tempat, dan tak pernah bisa ditiadakan dengan hukum dan senjata!

Tidak ada komentar: