Selasa, 30 Oktober 2007

Memandang yang Illahi


Coba melamun sejenak, dan memanjakan pikiran dengan sentuhan imajinasi. Andaikata Bunda Maria menampakan diri, apa yang akan dilakukan?
Bisa diduga jawaban Saudara tak akan seliar yang dilakukan oleh Filipus Neri. Konon, Santo itu pernah ditampaki oleh Bunda Maria. Hasilnya Bunda Maria tersebut diludahi oleh si Santo. Cuih! Kontan aja, Bunda Maria langsung marah dan protes, ‘Lho sampean itu begimana tho? Lha wong sudah saya tampaki, kok malah ngidoni (ludahi)?!’
Si Filipus Neri menjawab: ‘saya ini pendosa besar. Tidak mungkin Bunda Tuhan Yesus menampakan diri kepada saya. Juga seandainya Bunda menampakan diri kepada saya, tidak mungkin saya bisa melihat Beliau. Mata saya sudah dibutakan oleh dosa-dosa saya. Jadi kamu pasti Bunda Maria palsu’. Lalu Bunda Maria diludahi sekali lagi, cuih! Untungnya, bener saja, Bunda Maria berubah menjadi setan dan langsung menghilang.
Ironis memang, Filipus Neri, orang kudus yang rendah hati, dan merasa tidak pantas mendapat penampakan dari Bunda Maria. Sekarang, bila mendengar ada penampakan Bunda Maria disana dan disini, maka orang-orang akan berbondong-bondong kesana kemari hanya untuk melihat sosok Bunda Maria walau hanya sekelebat. Mungkin zaman kini, orang-orang merasa pantas melihat Bunda Maria.
Terlepas dari penampakan diatas, Mama Maria tetaplah sebagai pribadi, sebagai seorang Ibu yang dihormati bukan karena semua keajaiban yang ia lakukan tapi justru ketaatan yang menyebabkan peristiwa ajaib tersebut terjadi, bukan juga karena diangkat ke surga dan dimahkotahi tapi justru kerendahhatian dan cintanya kepada Sang Perencana Agung.
Mencintai Tuhan dengan seluruh hati berarti dengan seluruh hati pula mengucapkan kata ‘ya’ kepada kehidupan dan segala peristiwa yang terjadi didalamnya. Menerima tanpa syarat segala sesuatu yang direncanakan Tuhan dalam hidup ini. Memiliki sikap seperti Bunda Maria ketika berkata: ‘sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadikanlah aku menurut perkataanmu’. Mencintai Tuhan dengan sepenuh hati terangkum dalam kalimat ini: ‘Terima kasih untuk semua yang telah berlalu. Terjadilah segala yang akan terjadi – ya aku terima”Bunda Maria adalah sosok yang menarik hal-hal ilahi dalam hidupnya tanpa mengeliminasi getir dan pahitnya hidup. Bunda Maria tahu betul bahwa Allah tidak mati ketika kita tidak lagi percaya kepada keilahian yang personal, tetapi kita mati ketika tidak lagi diterangi oleh sesuatu yang gaib, yang senantiasa memancar, yang senantiasa baru, yang sumbernya di luar jangkauan akal budi.

Tidak ada komentar: